BandungNewsPhoto.com adalah media online yang menampilkan foto-foto peristiwa kota Bandung dan Jawa Barat, Indonesia. Hotel Phone Persib

BandungNewsPhoto.com adalah media online yang menampilkan foto-foto peristiwa kota Bandung dan Jawa Barat, Indonesia. Hotel Phone Persib

BandungNewsPhoto.com adalah media online yang menampilkan foto-foto peristiwa kota Bandung dan Jawa Barat, Indonesia. Hotel Phone Persib

BandungNewsPhoto.com adalah media online yang menampilkan foto-foto peristiwa kota Bandung dan Jawa Barat, Indonesia. Hotel Phone Persib

BandungNewsPhoto.com adalah media online yang menampilkan foto-foto peristiwa kota Bandung dan Jawa Barat, Indonesia. Hotel Phone Persib
BandungNewsPhoto.com adalah media online yang menampilkan foto-foto peristiwa kota Bandung dan Jawa Barat, Indonesia. Hotel Phone Persib

INFO BERITA
Kisah Dua Teman Tuli asal Bandung Mendobrak Sunyi Bersama Grab
BandungNewsPhoto.com - Senin, 2 Desember 2019 18:46 WIB | 259

BANDUNG – Keterbatasan tak menjadi halangan dan rintangan bagi dua sosok pejuang keluarga yang tinggal di Kota Bandung ini. Fajar Shiddiq dan Bonar Bangun Simanjuntak, sama-sama memiliki keterbatasan dalam pendengaran.

Tapi keterbatasan yang mereka miliki tak membuat keduanya berpangku tangan. Fajar dan Shiddiq sama-sama memiliki keyakinan dalam benak mereka bawah setiap orang punya kesempatan dan punya hak untuk mencapai keinginan.

Keduanya sama-sama bisa membuktikan hal itu. Fajar dan Bonar adalah teman tuli yang menjadi mitra pengemudi pertama di Bandung. Fajar jadi teman tuli pertama yang menjadi mitra GrabCar, sementara Bonar untuk layanan GrabBike. Menyambut Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember 2019, kisah Fajar dan Bonar bisa jadi inspirasi bagi kita.

Fajar, pemuda yang ramah senyum ini, tidak pernah mengeluh dengan keterbatasannya. Meski tidak bisa mendengar, Fajar tahu dia masih memiliki kemampuan agar hidupnya mandiri. Oleh karena itu, dia selalu berusaha bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan membantu perekonomian orang tuanya.

Fajar yang kini berusia 27 tahun adalah salah seorang mitra pengemudi GrabCar di Bandung. Sebelum bergabung dengan Grab, dia pernah bekerja di butik selama satu tahun. Dia bertugas memotong kain dan semacamnya. Namun, karena merasa tidak cocok dan penghasilannya terasa kurang, dia memilih berhenti.

Setelah keluar, Fajar mencari pekerjaan di tempat lain. Namun, dia selalu ditolak. Bahkan, selama satu tahun dia tidak memiliki pekerjaan.

“Awalnya saya sudah mencari kerja ke banyak tempat, tapi selalu ditolak. Saya bingung. Kemudian, waktu itu, saya dapat info dari Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) soal kesempatan kerja di Grab. Mereka tahu kemampuan menyetir saya sangat baik,” ujar Fajar dengan menggunakan bahasa isyarat.

Fajar pun mendiskusikan hal tersebut dan meminta restu orang tuanya. Meskipun tahu risiko bekerja di jalanan, namun Fajar tetap bertekad untuk bekerja sebagai mitra pengemudi Grab karena ingin membantu sesama dan mendorong perekonomian untuk mendapat kehidupan yang lebih layak. Orang tua Fajar mengizinkannya bekerja di Grab dengan satu syarat: hati-hati.  Dia pun tidak merasa khawatir bekerja mengemudikan mobil karena sudah terbiasa sejak dulu. Setelah melamar dan 3 bulan menunggu, Fajar resmi menjadi mitra GrabCar pada Juli 2019.

Fajar menjadi teman tuli pertama yang menjadi mitra GrabCar di Bandung. Fajar bersyukur karena disabilitas seperti dirinya diberikan kesempatan bekerja menjadi mitra pengemudi. Setelah bekerja sebagai mitra GrabCar, Fajar mengaku mengalami perubahan, terutama keberanian untuk berkomunikasi.

“Dulu, waktu saya belum kerja di Grab, kadang-kadang saya merasa kurang percaya diri. Kalau bertemu orang juga khawatir salah ngomong, takut salah paham. Tapi, setelah masuk Grab, saya jadi berpikir, tidak apa-apa, meskipun saya tuli, saya tetap harus berani untuk berkomunikasi. Apalagi saya punya tanggung jawab agar customer selamat sampai tujuan, jadi saya harus berani,” tutur lelaki yang senang berolahraga ini.

Selain itu, Fajar merasa bekerja sebagai mitra Grab cukup mudah. “Ketika saya dapat orderan menjemput customer, saya langsung berangkat menjemputnya,” tuturnya dengan bantuan gerak isyarat.

Namun, Fajar sadar akan kemungkinan kesulitan berkomunikasi dengan customer, maka dia selalu mengatakan kepada setiap penumpangnya, “’Maaf saya enggak bisa dengar. Jadi, kalau mau komunikasi bisa duduk di depan’. Saya juga tempel poster (berisi informasi bahwa saya tuli dan informasi lainnya) di mobil saya, supaya customer paham.”

Di sisi lain, menanggapi perbedaan antara dirinya dengan mitra lain, Fajar mengaku tidak pernah mempersoalkannya. Fajar mengaku kenyamanan dan kebermanfaatan dirinya untuk orang lain adalah hal utama. “Saya merasa nyaman dengan pekerjaan ini. Yang penting saya juga berhasil mendapatkan nafkah dari Grab,” katanya.

Fajar  tidak pernah mengambil risiko dalam berkendara. Dia lebih memilih keselamatan penumpangnya. “Saya biasanya tidak salip-menyalip. Saya biasanya berusaha bersabar saja. Yang penting saya dan customer selamat sampai tujuan. Menurut saya, pengguna jalan pun harus sopan, tidak usah berebut jalan. Saya sendiri menghindari hal itu.”

Keterbatasan Bukan Pembatas
Seperti halnya Fajar, Bonar Bangun Simanjuntak pun merasakan banyak manfaat dari keputusannya menjadi mitra pengemudi Grab. Bonar adalah teman tuli pertama di Bandung yang menjadi mitra GrabBike dan bergabung bersama Grab sejak April 2017.

Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, Bonar tidak pernah merasa ruang geraknya dibatasi. Dia bahkan ingin mendobrak perspektif bahwa teman tuli berbeda dengan mereka yang tidak tuli. Salah satu buktinya adalah keterlibatan dia menjadi mitra GrabBike, dimana ia terus produktif dan bisa berkarya.

“Saya tidak merasa minder. Saya berani. Saya merasa percaya diri dan merasa kuat juga,” ujar lelaki berusia 30 tahun itu menggunakan bahasa isyarat.

Niat teguh Bonar untuk bekerja bagi orang-orang yang dicintainya tak pernah luntur. Dia bekerja mulai pukul 4 subuh hingga 10 malam. Hal itu dilakukannya setiap hari. Keluarganya pun senang karena dia diberikan kesempatan untuk menafkahi mereka.

Selain itu, hal itu dilakukan untuk menunjang masa depan anaknya yang baru berusia 5 tahun. Bonar bercita-cita bisa terus membiayai pendidikan putrinya hingga jenjang paling tinggi. Maka, dia bertekad untuk menabung dan mengasuransikan hasil jerih payahnya sejak dini. “Hasil kerja ini untuk keluarga, menabung, asuransi untuk masa depan anak saya. Saya ingin anak saya kuliah. Jadi, saya menabung dari sekarang.”

Selain itu, sebagai teman tuli,  Bonar tidak pernah merasa berbeda dengan mitra GrabBike lainnya. Bonar mengaku, mereka sama-sama sedang bekerja untuk tujuan masing-masing.

“Kalau misalnya saingan dengan orang dengar ya tidak apa-apa saingan saja. Kadang biasanya ada yang mengejek, ah tapi tidak apa-apa, mungkin mereka bercanda,” ujarnya sambil tersenyum. “Saya juga merasa harus giat bekerja, saya harus bisa mandiri, jadi saya narik terus.”

Di sisi lain, banyak juga yang memujinya. Dia pun menjadi inspirasi banyak orang di sekitarnya. “Mereka bilang, ‘Wah, kamu orang tuli tapi tetap giat narik penumpang ya. Hebat.’ Mereka terlihat kagum.” kata Bonar, yang waktu luangnya selalu dimanfaatkan untuk bersantai dan berkumpul dengan keluarga.

Perjalanan Bonar untuk bisa bekerja dan berkarya tidaklah semulus yang dibayangkan. Dia harus menunggu beberapa waktu karena berbagai kendala.

“Awalnya saya ditolak empat kali waktu melamar di beberapa tempat. Tapi saya sabar dulu. Kemudian saya terpikir untuk menjadi mitra pengemudi transportasi online dan bikin foto dengan tulisan di kertas. Saya minta agar bisa bekerja di Grab. Akhirnya  foto saya viral, tahun 2017 kalau tidak salah. Saya juga kaget. Orang-orang banyak berkomentar. Akhirnya, Bos Grab dari Jakarta telepon saya. Dia bilang, ‘Ayo kamu lamar, Insyaallah kamu diterima.’ Ketika buka Whatsapp, Alhamdulillah saya diterima, seneng banget. Akhirnya saya diterima,” tutur Bonar.

Dia mengaku senang ketika mendengar kabar itu. Setelah lama menganggur, akhirnya dia bisa bekerja lagi.

Seiring berjalannya waktu, teman tuli lainnya pun mengikuti jejak Bonar. Mereka mendapatkan kesempatan yang sama menjadi mitra GrabBike. Dia mengatakan, ada lebih dari 20 teman Tuli yang sudah menjadi mitra GrabBike di Bandung. Tidak jarang mereka berkumpul dan saling mentraktir.

“Kadang-kadang sering ketemu. Kadang sudah tahu bahwa kita sama-sama teman tuli, kemudian ngobrol dengan bahasa isyarat tentunya. Terus makan bareng, saling traktir-traktiran. Kadang-kadang ada perbedaan komunikasi, saya komunikasinya bisa sedikit bicara dan isyarat, tapi yang lain beda, tapi tidak apa-apa, pelan-pelan saja,” katanya.

Bonar merasa senang karena semakin banyak teman tuli yang mendapatkan kesempatan kerja di Grab. Di sisi lain, sebagai teman tuli, dia merasa tidak kesulitan berkomunikasi dengan customer. Dia sudah terbiasa menggunakan fitur berkirim pesan untuk memberitahukan bahwa dirinya tuli sejak awal.

“Biasanya customer pada ramah ke saya ketika tahu saya tuli. Kerja di Grab juga mudah. Ketika sudah sampai di tempat menjemput, saya chat customer, terus saya konfirmasi. Setelah itu saya kasih helm dan jalan seperti biasa. Kalau mau jalan pintas, mereka bisa tepuk pundak saya, misalnya kalau mau ke kanan tepuk pundak kanan dan sebaliknya,” ujarnya.

Meski dihadapkan dengan berbagai kendala dan kekurangan, Bonar selalu menganggap hal itu mudah dan bisa diatasi. Bonar tak pernah memanfaatkan kekurangannya untuk lebih menonjol dibandingkan dengan yang lain.

Selain itu, Bonar mengaku selalu menghormati penumpang dan mengutamakan keselamatan selama berkendara. Karena itu, dia tidak pernah mengalami insiden kecelakaan karena ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan penumpang. Sejauh itu pula, Bonar merasa senang bekerja sebagai mitra layanan roda dua tersebut.

Dia pun berharap semakin banyak orang yang belajar tentang tuli. “Sehingga tahu tuli itu seperti apa. Jadi semuanya saling mengetahui dan bekerja sama. Saya juga ingin bilang kepada orang-orang, kita harus tahu bahwa tuli dan dengar itu sama-sama berjuang, bekerja.”

Dia menambahkan, merasa bersyukur karena sekarang Grab sudah bekerja sama dengan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia). “Dengan begitu, teman-teman tuli juga bisa bekerja sama.”

Setelah bekerja sebagai mitra dari Grab, Bonar mengaku senang karena kebutuhan dia dan keluarga terpenuhi. Selain itu, dia mengaku karena orang sepertinya tidak dibedakan dengan orang-orang normal. Soal rencana ke depan, Bonar mengaku akan tetap bekerja sebagai mitra GrabBike. “Saya masih akan tetap bekerja di Grab, lagian saya sudah 3 tahun,” ujarnya sambil tertawa.

Untuk memperluas misi Grab untuk memastikan setiap orang dapat menikmati manfaat dari ekonomi digital, terlepas dari kondisi mereka, Grab memperkenalkan program ‘Mendobrak Sunyi’ bekerja sama dengan GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) pada September lalu, dengan menawarkan kesempatan bagi teman Tuli menjadi mitra pengemudi Grab.

Grab ingin memberikan kesempatan bagi teman Tuli dan orang dengan keterbatasan pendengaran untuk dapat berpartisipasi lebih baik dalam ekonomi digital melalui ekosistem Grab. Ada banyak pembaharuan dari sistem teknologi Grab seperti fitur bantuan khusus, materi pelatihan menggunakan subtitle dan juga alat bantu komunikasi di dalam mobil dan di atas motor. BNP/Hendra ZA

INFO BERITA
Kebersamaan Forkopimda Antarkan Jabar Juara Lahir dan Batin Sabtu, 7 Desember 2019 14:57 WIB BANDUNG - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengatakan, kebersamaan jajaran Forum Komunikasi ... Gubernur Apresiasi KPID Award Ke-12 Tahun 2019 Jumat, 6 Desember 2019 23:16 WIB BANDUNG - Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jabar sangat mendukung KPID Jabar Award ke- 12 Tahu... Pemprov Jabar Buka Peluang Kerja Sama dengan Investor asal Chongqing Jumat, 6 Desember 2019 23:12 WIB BANDUNG - Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) melakukan penjajakan kerja sama inve... Bertemu Pimpinan Media, Gubernur dan Wagub Jabar Paparkan Progres Pembangunan Jumat, 6 Desember 2019 20:51 WIB BANDUNG - Gubernur Ridwan Kamil bersama Wakil Gubernur Uu Ruzhanul bersilaturahim dengan para pimpin... Aplikasi Sapawarga Mudahkan Koordinasi Ketua RW dengan Pemprov Jabar Jumat, 6 Desember 2019 17:45 WIB BANDUNG - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil secara resmi meluncurkan aplikasi 'Sapawarga&... Pemprov Jabar Gandeng Mbizmarket untuk Pemanfaatan e-Marketplace Jumat, 6 Desember 2019 14:35 WIB BANDUNG - Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) terus berupaya meningkatkan kinerja ... Agar Dakwah Digital Efektif, DKM Diimbau Punya Tim Media Sosial Jumat, 6 Desember 2019 14:11 WIB BANDUNG - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menyarankan agar setiap Dewan Kemakmuran Masjid (... Pemda Provinsi Jabar Terus Dorong Pemulihan Lingkungan di KBU Jumat, 6 Desember 2019 08:30 WIB BANDUNG - Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) terus berupaya mengatasi permasalaha... Ridwan Kamil Lepas Hafidz dan Hafidzah untuk Ajarkan Ilmu Agama di Desa se-Jabar Kamis, 5 Desember 2019 18:37 WIB BANDUNG - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil melepas 1.500 hafidz dan hafidzah yang akan diutus ke 1.... Pemda Provinsi Jabar Gelar Workshop Antiradikalisme untuk Pelajar Kamis, 5 Desember 2019 17:06 WIB TASIKMALAYA - Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat melalui Cabang Dinas Pendidikan (Cadisdi...