Cerita

Bandungnewsphoto.com | Senin, 30 April 2012 | 11:49 WIB | 567
Bermain Babalongan





Permainan Tradisional Sunda: Antara Filosofi dan Kegembiraan


Pada waktu yang jauh, dulu sekali, di sebuah tanah lapang, di sawah-sawah lepas panen, atau di depan rumah bilik, anak-anak bermain dengan riang. Pada tahun 1980-an ketika lapangan bulu tangkis masih banyak terdapat ditengah permukiman, anak-anak masih dapat menikmati kebahagiaan bermain dengan kawan sejawat. Apa yang terjadi setelah tiga dekade setelahnya, hari ini, atau puluh-puluh tahun mendatang? Tanah-tanah lapang telah menjadi rumah atau bangunan beton, permukiman semakin padat, hanya ada gang-gang sempit yang hanya cukup untuk dua badan. Lantas di manakah anak-anak bermain?
 
Berkunjunglah ke sentra game online yang banyak menjamur di kota bahkan sampai kecamatan, disanalah mereka bermain. Bahkan di rumah mereka pun telah tersedia fasilitas game online atau game konsol yang membuat mereka betah bertahan berjam-jam sendirian. Mereka tak perlu ke luar rumah dan bertemu teman-teman mereka untuk menciptakan kebahagiaan. Kebahagiaan itu dapat mereka buat sendiri. Berjuta anak dunia pun melakukan hal yang sama sepanjang hari. Mereka menatap layar dan asyik dengan dunianya yang dibangun lewat pikirannya sendiri.  Menang adalah tujuannya, dan kegembiraan atau kebahagiaan adalah buah dari kemenangan. Itulah hal yang tertanam dalam benak mereka.
 
Kegembiraan dan Filosofi
 
Seolah-olah kembali ke masa lalu, anak-anak kota itu datang dari Jakarta. Kini mereka terpaksa melupakan sejenak permainan modern yang kerap mengisi waktu senggang. Seolah-olah kembali ke masa lalu, di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kota Bandung, mereka bermain permainan tradisional khas Sunda yang telah langka.
 
Mulanya antusias itu tak kunjung muncul.  Mereka memulai kegiatan hari itu dengan melipat janur untuk dibentuk menjadi keris. Raut wajah mereka menunjukan kesulitan yang tengah dialami. Namun, kawan-kawan mereka dari Komunitas Hong terus membimbing mereka, hingga akhirnya sebagian besar hasta-karya berupa keris janur pun jadi. Perasaan gembira pun mulai muncul dari wajah mereka. Rupanya antusiasme itu kini mulai muncul.
 
Bila permainan modern menjadikan kemenangan sebagai tujuan dan atas kemenangan itulah timbul kegembiraan, maka permainan tradisional lebih mementingkan kegembiraan atau kebahagiaan sebagai tujuan, dan atas kegembiraan itulah kemenangan diraih. Sekiranya itulah filosofi permainan tradisional Sunda yang tertanam ditiap permainan dan pemainnya. Namun sayang, filosofi yang begitu dalam tersebut akhirnya harus tergerus zaman.
 
Hari ini, permainan tradisional begitu langka dimainkan. Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa hampir punahnya permainan tradisional Sunda dikarenakan lahan untuk bermain yang tidak ditemukan lagi, kemajuan teknologi pun turut ambil bagian, dan sulit ditemukannya bahan untuk membuat permainan pun menjadi faktor kehampirpunahan itu. Komunitas Hong yang juga menjadi Pusat Kajian Permainan Rakyat mencatat sebanyak 70 persen atau sebanyak 168 alat dan permainan tradisional Sunda telah punah. Dengan begitu, filosofi yang terkandung dalam permainan tradisional pun turut hilang.
 
Zaman membuat manusia hari ini menatap kemenangan sebagai kesejatian hidup dan sesuatu untuk mencapai kegembiraan atau kebahagiaan. Akhirnya, manusia melakukan apapun untuk mendapatkan kemenangan itu. Manusia tak sepenuhnya menyadari semakin kemenangan itu dikejar, semakin jauh kebahagiaan itu diraih.  Manusia tak sepenuhnya menyadari bahwa pikiran itu telah tertanam sejak kecil melalui permainan yang dimainkan. Ternyata melalui permainan modern pikiran-pikiran lalim, hasrat, dan nafsu duniawi itu tumbuh. Sementara, filosofi dan kesejatian hidup itu justru sebenarnya ada pada permainan tradisional, misalnya saigel sapinandean (bekerja sama, hidup bersama), silih asah (belajar bersama untuk kemajuan), silih asuh (saling memelihara), silih asih (saling berbagi kasih sayang), dan hirup bagja (hidup bahagia), basajan (sederhana), motekar (kreatif), pinteur (cerdas), cageur (sehat fisik dan rohani).

Hari ini, anak-anak dari SMA Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta, bermain aneka jenis permainan tradisional Sunda. Misalnya, Gasing, Gatrik, Bedil Karet, Bancakan, Babalonan, Bedil Jepret, Kelom Batok, dan Rorodan. Mulanya, mereka bingung bagaimana cara menggunakan alat-alat yang hampir semuanya terbuat dari bambu, kayu, batok kelapa, dan perkakas sehari-hari lainnya. Kawan-kawan Komunitas Hong dengan terbuka berbagi ilmu dan mencontohkan bagaimana memainkannya. Mulanya, mereka canggung namun lama-kelamaan asiknya mulai muncul. Tak ayal gelak tawa menyertai keceriaan mereka. Mereka seolah-olah melupakan Blackberry, iPhone, iPad, laptop, Playstation, dan game modern lainnya. Kini mereka larut dalam kegembiraan itu.
 
Selembar kain sarung disimpan di bahu. Lantas mereka memutarkan tangan dan terhempaslah sarung itu ke udara. Permainan Babalonan yang sederhana mampu membuat tawa mereka terhempas pula ke udara. Setelah itu, kembali mereka mencoba jenis permainan lain, yaitu Bancakan. Sejumlah batu ditumpuk, layaknya permainan bowling, mereka jatuhkan tumpukan batu itu dengan bola serabut. Brak! Batu-batu pun runtuh.
 
Kini mereka simpan gelas plastik dihadapan. Mereka jadikan gelas itu sebagai sasaran. Dengan bedil sederhana yang terbuat dari bambu kecil mereka tembak target itu dengan leunca. Gelas pun jatuh. Kepuasan tergambar dari teriakan “Hore!” atau “Yes!” atau “Yuhu!”. Hal itu merupakan sebuah tanda bahwa Bedil Jepret mungkin akan jadi permainan mereka kelak ketika pulang ke Jakarta. Dan itulah hal utama yang ingin disampaikan Komunitas Hong, yaitu memasyarakatkan permainan tradisional agar tetap lestari, tetap menjadi media pendidikan, dan tetap menjadi bagian dari hidup manusia, khususnya anak-anak hari ini.
 
Akhirnya, segala permainan telah mereka jajal. Letih, pastilah sudah. Namun, seketika kegembiraan itu menggantikan keletihan mereka. Kegembiraan itu membuat mereka menang. Begitulah hidup, begitulah filosofi permainan tradisional Sunda.

Foto dan Naskah: Langgeng Prima Anggradinata






Cerita Lainnya


Puncak Imlek di Klenteng An Tjeng Bio Indramayu

Konser Sejuta Cerita Coboy Junior Bikin Histeris Ribuan Comate Bandung

Masres, Kesenian Pelosok yang Berusaha Tak Terperosok