Cerita

Bandungnewsphoto.com | Senin, 24 Oktober 2011 | 21:27 WIB | 451
Pengunjung Makam Syekh Abdul Muhyi





ZIARAH DAN WISATA DI PAMIJAHAN TASIKMALAYA


Pagi itu, Minggu (18/9/2011) dini hari tepat pukul 03.30 WIB, kami tiba di area parkir Wisata Ziarah Pamijahan Tasikmalaya, Jawa Barat, yang konon katanya memiliki tempat ritual mujarab untuk berbagai doa.  Beberapa orang rombongan kami langsung mencari kamar kecil. Tapi sayang, tak ada satu pun wc umum disana yang tersedia air. “Pak, harus kemana saya mencari toilet yang ada airnya, waduh kebelet nih,” tanya Ugay, salah satu rombongan kami kepada penjaga kios di sekitar area parkir. Penjaga kios tersebut menyuruh kami untuk ke masjid yang jaraknya sekitar 500 meter menyusuri gang-gang kecil, penuh dengan deretan kios yang masih tutup. Rombongan kami pun sekalian beranjak menuju kesana.

Kami tiba di masjid tersebut sekitar 25 menit lamanya. Ternyata masjid tersebut cukup besar dengan dinding tinggi bercatkan putih yang terletak di pinggir aliran Sungai Pamijahan. Disana, ratusan orang sudah memadati lingkungan masjid untuk melakukan Sholat Subuh. Kami pun segera mengantri untuk masuk ke toilet. Ternyata orang-orang yang ngantri hanya kebagian sedikit air, bahkan diantara rombongan terpaksa  membeli air kemasan untuk mencuci dan berwudhu.

Dari sana, kami mulai berjalan menuju makam Syekh Abdul Muhyi, tujuan ziarah kami, yang menempuh waktu sekitar 15 menit. Kami pun tiba disana sekitar pukul 07.00 WIB dengan antrian penuh serta jalan masuk yang menanjak.

Makam Syekh Abdul Muhyi merupakan obyek ziarah utama di seluruh situs Pamijahan selain makam Bengkok, makam Sembah Ajeng Tangan Ziah, makam Kidul, dan makam Syekh Khotib Muwahid.

Makam Syekh Abdul Muhyi terletak ditebing sebelah utara Cipamijahan, makam ini seolah berada di atas bukit yang dikelilingi hamparan sawah yang subur. Di sekitar kompleks makam tumbuh pepohonan besar yang memberi kesan rindang dan teduh; suatu kondisi alamiah yang sangat mendukung fungsi kekeramatannya.

Berbeda dengan komplek makam lain, kuburan Syekh Abdul Muhyi mendapat perlakuan sangat khusus. Di samping bangunannya sangat megah dari konstruksi beton permanen juga tersedia berbagai fasilitas yang menunjang aktivitas ziarah seperti masjid, kolam dan sarana air bersih serta balai-balai yang dapat digunakan para peziarah melakukan zikir. Di daerah inti Pamijahan terdapat beberapa perilaku yang wajib ditaati pengunjung, seperti dilarang merokok, naik sepeda dengan atau tanpa motor.

Selain komplek keramat, sekitar 2 km dari tempat makam Syekh Abdul Muhyi, terdapat Gua Sapawardi. Gua ini terbentuk secara alamiah sebagai hasil proses geologi biasa. Gua tersebut memiliki dua pintu, tetapi secara tradisional, jalur yang dianggap pintu masuk terletak di sebelah tenggara (Kampung Pamijahan) dan pintu keluar di sebelah barat laut (Kampung Panyalahan). Diukur dari kedua pintu itu, panjang gua mencapai sekitar 284 m dan bagian terlebar mencapai 24,50 m. Menurut perhitungan juru pelihara, ruang dalam gua tersebut mempunyai keluasan 6.950 m2, yang tertutup bukit terjal seluas 26.568 m2.

Dari ujung ke ujung terdapat jalan masuk yang sempit. Bagian dalam gua memiliki ruangan cukup luas dan dapat menampung puluhan orang. Pada sepanjang jalan gua ini, tampak langit-langit gua dipenuhi stalaktit dan stalagmit. Sesungguhnya jalan gua ini merupakan sumber air yang seterusnya dialirkan ke bagian luar untuk masuk ke sungai Pamijahan. Jalan utama dalam gua ini sebuah jalur lurus dengan orientasi barat ke timur. Di sebelah utara terdapat lorong-lorong yang secara tradisional dianggap jalan mistik dengan berbagai tujuan. Konon katanya jalan mistik ini bisa tembus sampai ke Mekah.

Di dalam gua terdapat sebuah lorong yang dinamai pangtapaan (tempat bertapa). Tempat ini menjadi lokasi pertama dalam proses ziarah ke dalam gua. Setelah keluar dari pangtapaan, orang dapat mengunjungi ceruk kecil mengandung sumber air bawah tanah yang ditandai sebagai zamzam. Di sini pengunjung dapat mengambil air suci dalam botol-botol plastik yang nantinya sebagai bekal.

Pamijahan di Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan ziarah terbesar di Jawa Barat setelah Cirebon dan Banten. Daya tarik utamanya selain terdapat makam Syekh Abdul Muhyi, juga adanya Gua Saparwadi yang merupakan tempat peziarah melakukan perjalanan spiritual dan mengambil air suci. Ritual keagamaan yang melibatkan puluhan ribu orang pada setiap hari raya Islam itu telah menjadikan Pamijahan sebagai obyek wisata potensial yang memberi kontribusi besar bagi peningkatan pendapatan masyarakat.

Menurut Usman, penjaga makam Syekh Abdul Muhyi, pada hari besar Islam seperti bulan Rabbi’ul Awwal (kelahiran Nabi), bulan Sya’ban (menjelang ibadah ramadhan) dan bulan Muharram (tahun baru Hijriyah), peziarah bisa mencapai 10.000 orang per hari. “Kendaraan yang parkir khusunya bus, bisa sampai parkir keluar terminal yang jaraknya mencapai 1 km,” ujarnya ketika membersihkan halaman sekitar.

Besarnya jumlah pengunjung sudah tentu membawa dampak luas bagi kehidupan ekonomi warga setempat. Tetapi bisa juga memberi dampak negatif seperti menurunnya daya dukung alam dan berkurangnya ketersediaan air.

Warga setempat memanfaatkan kedatangan orang untuk berziarah dengan menjual berbagai barang dan makanan. Mulai dari suvenir gantungan kunci, pakaian, hingga aksesori rumah tangga, banyak dijual di gang-gang kecil menuju makam. Makanan pun banyak dihidangkan mulai dari buah-buahan segar sampai menu makan parasmanan layaknya warung nasi di wilayah dataran tinggi Punclut Kabupaten Bandung.

Selain dampak positif berupa peningkatan ekonomi tersebut, banyaknya pengunjung yang datang juga mengakibatkan dampak negatif, yaitu menurunnya daya dukung alam. Sumber air yang ada banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan peziarah. Sedangkan kebutuhan untuk sektor pertanian menjadi terbengkalai. Apalagi  di musim kemarau, air dimanfaatkan benar-benar untuk kebutuhan wisata ziarah. Pengelolaan air di tempat ini tidak tampak dikelola dengan baik. Ini terbukti kurangnya ketersediaan air di sejumlah tempat strategis seperti di sekitar terminal dan sejumlah masjid. Untuk menghadapai musim kemarau, seharusnya pemerintah setempat bisa membuat sumber air alternatif, seperti penyediaan air artesis.

Foto dan Naskah : Lukman Gusmanto






Cerita Lainnya


Puncak Imlek di Klenteng An Tjeng Bio Indramayu

Konser Sejuta Cerita Coboy Junior Bikin Histeris Ribuan Comate Bandung

Masres, Kesenian Pelosok yang Berusaha Tak Terperosok