• Jumat, 21 Januari 2022

Banyak Anak Banyak Rezeki, Benarkah? Simak Penjelasan Kabid KSPK BKKBN Jabar Ini

- Sabtu, 30 Maret 2019 | 19:23 WIB

BOGOR - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama Komisi IX DPR RI menggelar sosialisasi pembangunan keluarga melalui program Generasi Berencana (Genre) Ceria yang dilaksanakan di Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Sabtu (30/3/2019)

Di hadapan 250 undangan, Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Provinsi Jawa Barat, Pintauli R. Siregar menyoroti adagium atau pepatah 'banyak anak, banyak rezeki' yang berkembang di masyarakat.

Menurut Pintauli tak ada larangan bagi setiap pasangan untuk membatasi berapa jumlah anak. Tapi yang perlu diingat, kata Pintauli, adalah hal itu perlu dibarengi oleh kesiapan setiap orangtua. Jangan sampai keinginan mendapatkan banyak rezeki, malah menjadi beban.

"Karena di masyarakat kita banyak yang berpikir ingin mempunyai banyak anak, padahal kemampuan mereka (secara ekonomi) tidak mencukupi untuk mempunyai dan mengurus banyak anak. Memang rezeki itu tak akan kemana, tapi rezeki itu tentu tetap harus dicari," jelas Pintauli.

Selain itu perlu dipikirkan juga, dampaknya terhadap anak. Sebab jika kemampuan orangtua kurang mencukupi, juga bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya anak. "BKKBN hadir untuk membantu pengendalian penduduk agar masyarakatnya  dapat membina keluarganya menjadi sejahtera" paparnya menambahkan.

Tingginya angka pernikahan dini di Jawa Barat, juga menjadi materi pembahasan dalam sosialisasi program Genre Ceria di Desa Singabraja. Pintauli kembali mengingatkan pentingnya mempersiapkan diri menjalani kehidupan pascanikah.

Selain itu, Pintauli dalam kesempatan ini menjelaskan peran BKKBN dalam masalah kependudukan. Dirinya perlu menjelaskan hal itu agar masyarakat tak salah mempersepsikan peran dan fungsi BKKBN.

"Kependudukan di BKKBN bukan mengurusi administrasi serperti KTP, KK, dan hal lainnya. Akan tetapi kependudukan di BKKBN adalah tentang pengendalian jumlah penduduk melalui program pembangunan keluarga berencana," jelas Pintauli.

Sependapat dengan Pintauli, perwakilan BKKBN Kabupaten Bogor, Eha Tarwiyah juga mengingatkan dan mengajak kepada mereka yang berniat menikah di usia muda agar menunda kehamilan anak pertama mereka. Alasannya, kata Eha, selain faktor kesehatan orangtua dan anak atau bayi, juga psikologis.

"Kalau seandainya sudah terjadi menikan usia dini, tidak masalah tapi nantinya harus mengikuti program keluarga penundaan anak pertama. Karena ini penting untuk kesehatan baik ibu maupun bayinya" jelas Eha.

Eha juga menjelaskan usia ideal wanita untuk kehamilan anak pertama adalah 21 tahun. "Jadi untuk pasangan usia dini, mereka disarankan untuk menunda dulu mempunyai anak pertama sampai usia ideal yaitu 21 tahun bagi wanita. Agar secara mental maupun fisik mereka sudah kuat," tuntasnya. BNP/Hendra ZA

Editor: Administrator

Terkini

Arteria Dahlan Minta Maaf, Ridwan Kamil: Hatur Nuhun

Jumat, 21 Januari 2022 | 13:25 WIB
X