• Senin, 29 November 2021

Kuda Perang dari Lembah Ciremai

- Senin, 30 September 2013 | 22:58 WIB
Siap Memacu Kuda. BNP/Gilang Pratama
Siap Memacu Kuda. BNP/Gilang Pratama

Tak banyak yang mengira, delman-delman itu berubah menjadi kuda pacuan yang gagah berani bak kuda perang yang tanggguh di medan perang, itulah sedikit gambaran dari jawara-jawara Saptonan di Kuningan, Jawa Barat. 
 
Beberapa waktu lalu, saat peringatan hari jadi kabupaten Kuningan, Digelar beragam bentuk tradisi, salah satunya saptonan, tradisi yang masih terus dipelihara oleh masyarakat. Saptonan merupakan warisan dari Kerajaan Kajene Kuningan sebagai simbol sikap kesatria yang senang memberikan manfaat bagi orang lain (heroisme). Pada awalnya, tradisi saptonan merupakan pertunjukan yang rutin digelar setiap minggu di sekitar kerajaan Kajene Kuningan, layaknya sebuah permainan yang memerlukan ketangkasan berkuda dan panahan. 
 
Tradisi saptonan juga memerlukan kebersamaan tim yang secara filosofis pada zaman dahulu, untuk membela bangsa harus memiliki berbagai ketangkasan dan kerja tim agar usaha yang dilakukan bisa berhasil. Karena berasal dari tradisi lingkungan kerjaan, yang biasa dilakukan raja dan rakyatnya, tradisi saptonan pun kini terus dipertontonkan apalagi pada saat hari peringatan hari besar nasional ataupun lokal seperti hari jadi Kabupaten Kuningan. 
 
Saptonan berlangsung meriah, karena diikuti oleh Kademangan Cinangci (Desa Cihideung Hilir), Kademangan Naggela (Cihideung Girang), Kademangan Kosambi (Desa Kertawinangun, Datar, Bunder), Kademangan Jatikesik (Desa Legok, Cikeusik, dan Jatimulya), Kademangan Kalipancur (Desa Kalimanggis Wetan, Kalimanggis Kulon, dan Cipancur), Kademangan Kertawangunraya (Desa Kertawana, Wanasaraya, dan Desa Partawinangun).
 
Suasana layaknya sebuah kegiatan kerajaan. Para camat menjadi tumenggung, para kepala desa jadi demang, beserta ratusan prajurit yang berasal dari staf kecamatan dan desa. Adapula gundal adalah para juru pelihara kuda.
 
Disamping menyaksikan kekompakan prajurit dan keberkahan hasil bumi rakyatnya, mereka juga melihat atraksi kesenian yang ditunjukan prajurit Kademangan. Secara etimologi dan historis, saptonan adalah acara rutin setiap pascakegiatan upeti yang dilaksanakan di sekitar Kerajaan Kajene (Kuningan). Kegiatan ini mengandung makna yang dalam. Seperti heroisme dan patriotisme dalam bela negara, juga kebersamaan antara pemerintah dan rakyatnya. BNP/Gilang Pratama

Editor: Administrator

Terkini

Puncak Imlek di Klenteng An Tjeng Bio Indramayu

Sabtu, 22 Februari 2014 | 06:58 WIB

Masres, Kesenian Pelosok yang Berusaha Tak Terperosok

Sabtu, 7 Desember 2013 | 16:10 WIB

Citomo "Menolak" Perkembangan

Kamis, 5 Desember 2013 | 10:37 WIB

Hidup di Atas Roda Gila

Sabtu, 23 November 2013 | 11:58 WIB

Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok dan Tanggulan

Sabtu, 26 Oktober 2013 | 20:43 WIB

Kuda Perang dari Lembah Ciremai

Senin, 30 September 2013 | 22:58 WIB

Grebeg Syawal di Astana Gunung Jati Cirebon

Minggu, 25 Agustus 2013 | 17:04 WIB

Pesona Pulau Biawak di Indramayu

Senin, 8 Juli 2013 | 06:57 WIB

Banjir Tahunan Rendam Bandung Selatan

Minggu, 21 April 2013 | 06:20 WIB

Sepatu Motorcross Kelas Dunia Kreasi Anak Negeri

Jumat, 29 Maret 2013 | 19:28 WIB

Kreasi Unik Topeng Bambu

Jumat, 29 Maret 2013 | 06:21 WIB
X