• Senin, 29 November 2021

Sedekah Bumi, Tradisi yang Tetap Terjaga di Desa Cibuntu Kuningan

- Minggu, 20 Oktober 2013 | 20:49 WIB
Menyiapkan kantung yang terbuat dari potongan bambu. BNP/Muhamad Samsudin
Menyiapkan kantung yang terbuat dari potongan bambu. BNP/Muhamad Samsudin

Sedekah bumi merupakan tradisi menyambut datangnya musim hujan dan awal masa tanam bibit padi dan sudah menjadi mata rantai kegiatan tahunan yang dilaksanakan masyarakat Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak 40 tahun silam. Tak ingin tradisi tersebut lekang di telan zaman, masyarakat Desa Cibuntuk selalu menggelarnya setiap tahun.

Warga berduyun-duyun dan secara serentak terlibat untuk memeriahkan tradisi sedekah bumi yang dilaksanakan secara kontinu dengan diawali oleh kegiatan bersih-bersih kampung, termasuk membersihkan saluran mata air, areal pertanian dan pertenakan yang selama ini jadi mata pencaharian utama warga desa setempat.

Kegiatan sedekah bumi dilaksanakan selama tiga hari yang dimeriahkan oleh berbagai kegiatan. Diantaranya kaulinan anak-anak, seperti tokle, gansing, parade kolecer dan festival layang-layang. Sedangkan pada malam harinya masyarakat Desa Cibuntu, mengadakan pawai obor yang diikuti oleh seluruh warga kampung dan dipimpin oleh Kuwu (Lurah).

Masyarakat, khususnya para kepala rumah tangga berkumpul di salah satu rumah warga untuk membuat kantung yang terbuat dari potongan bambu. Kantung ini digunakan untuk membawa sayuran dalam helaran sedekah bumi. Selain menggunakan kantung, masyarakat Desa Cibuntu juga menggunakan takir (piring) yang terbuat dari daun kelapa yang dianyam untuk digunakan sebagai pengganti piring saat digelar acara makan bersama dengan para tamu kehormatan dan pejabat pemerintah.

Acara puncak sedekah bumi diisi oleh serangkaian kegiatan adat, seperti pawai helaran, acara syukuran serta penyerahan secara simbolis bibit padi kepada perwakilan kelompok tani. Pawai helaran ditandai dengan iring-iringan masyarakat yang membawa tetenong atau makanan yang nantinya akan dibagikan serta disantap bersama dalam acara makan bersama.

Rangkaian pawai helaran diawali dengan Kepala Desa yang duduk diatas kereta kencana yang melambangkan bahwa Desa Cibuntu dipimpin oleh seorang pemimpin yang tegas, adil dan bijaksana. Sementara masyarakat desa membawa tetenong sebagai tempat menyimpan makanan yang melambangkan perwujudan kehidupan harmonisasi kemasyarakatan yang saling asing, saling asuh dan berbagi dengan sesama.

Seluruh masyarakat yang terlibat yang berasal dari dua dusun, dua RW dan empat RT melambangkan bahwa Desa Cibuntu dalam kehidupan sehari-hari selalu mengedepankan azas gotong-royong dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat desa setempat.

Sebagai penutup acara seluruh warga Desa Cibuntu akan makan bersama para tamu dan pejabat pemerintah dengan menggunakan takir (piring) yang terbuat dari daun kelapa yang dianyam sebagai penutup kegiatan sedekah bumi di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. BNP/Muhamad Samsudin

Editor: Administrator

Terkini

Puncak Imlek di Klenteng An Tjeng Bio Indramayu

Sabtu, 22 Februari 2014 | 06:58 WIB

Masres, Kesenian Pelosok yang Berusaha Tak Terperosok

Sabtu, 7 Desember 2013 | 16:10 WIB

Citomo "Menolak" Perkembangan

Kamis, 5 Desember 2013 | 10:37 WIB

Hidup di Atas Roda Gila

Sabtu, 23 November 2013 | 11:58 WIB

Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok dan Tanggulan

Sabtu, 26 Oktober 2013 | 20:43 WIB

Kuda Perang dari Lembah Ciremai

Senin, 30 September 2013 | 22:58 WIB

Grebeg Syawal di Astana Gunung Jati Cirebon

Minggu, 25 Agustus 2013 | 17:04 WIB

Pesona Pulau Biawak di Indramayu

Senin, 8 Juli 2013 | 06:57 WIB

Banjir Tahunan Rendam Bandung Selatan

Minggu, 21 April 2013 | 06:20 WIB

Sepatu Motorcross Kelas Dunia Kreasi Anak Negeri

Jumat, 29 Maret 2013 | 19:28 WIB

Kreasi Unik Topeng Bambu

Jumat, 29 Maret 2013 | 06:21 WIB
X