• Senin, 29 November 2021

Tradisi Nadran Wujud Kebersamaan Petani dan Nelayan di Cirebon

- Minggu, 17 November 2013 | 19:15 WIB
Wanita yang digambarkan sebagai seorang Putri Kerajaan duduk diatas replika burung raksasa dan diarak sepanjang jalan. BNP/Teguh Prabowo
Wanita yang digambarkan sebagai seorang Putri Kerajaan duduk diatas replika burung raksasa dan diarak sepanjang jalan. BNP/Teguh Prabowo

Cuaca cukup mendung dengan awan yang tebal di langit pesisir Kabupaten Cirebon, tepatnya di Kecamatan Gunungjati sekitar pukul 15.00 WIB pada Jumat (15/11/2013) saat itu. Namun ribuan warga di sepanjang jalan Gunungjati hingga perbatasan Kota Cirebon di Krucuk, tetap memadati. Mereka sangat penasaran untuk menyaksikan perhelatan tradisi "Nadran" yang melibatkan masyarakat petani dan nelayan di Kecamatan Gunungjati.

Tradisi tahunan Nadran digelar dengan melakukan pesta karnaval sepanjang Jalan Pantura Gunungjati hingga perbatasan Krucuk Kota Cirebon yang berjarak sekitar 8 kilometer. Meski diselimuti mendung dan kekhawatiran akan datangnya hujan, namun tradisi Nadran tersebut tetap dilaksanakan.

Sekitar pukul 15.30 WIB, arak-arakan karnaval Nadran pun dimulai. Diawalli dengan pasukan Dayak Sumbuk (sebutan untuk pasukan peserta yang tubuhnya di baluri cat arang) yang mengamankan ribuan warga yang memadati jalan untuk membuka ruas jalan agar tidak mengganggu prosesi arak-arakan. Warga pun langsung menepi ke pinggir untuk menghindari pasukan tersebut karena takut kotor dengan cat arang itu.

Tak lama berselang, berbagai replika raksasa dalam berbagai bentuk muncul ke tengah kerumunan. Ada puluhan replika yang diarak oleh peserta Karnaval Nadran. Diantaranya yang berbentuk naga raksasa, buaya raksasa, manusia raksasa terbang, hingga tokoh kartun anak anak dengan ukuran besar dan lain sebagainya. Replika replika raksasa ini dibuat oleh puluhan kelompok warga di sejumlah desa di Kecamatan Gunungjati.

Umumnya, replika ini dibuat dengan menggunakan bahan rangka bambu yang dilapisi kertas semen atau bahan lainya kemudian di cat hingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk membuat satu replika bisa menghabiskan ratusan ribu bahkan mencapai jutaan tergantung ukuran, bentuk dan bahan yang digunakan. Uang tersebut merupakan sumbangan warga dari tiap kelompok warga yang membuat replika dan juga para donatur yang mendukung pesta Nadran tersebut.

Pesta Karnaval Nadran ini merupakan tradisi tahunan oleh masyarakat petani dan nelayan di Kecamatan Gunungjati, Cirebon. Sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas karunia Tuhan yang melimpahkan hasil alamnya untuk masyarakat. Meski akhirnya arak-arakan nadran ini diguyur hujan lebat, namun pesta tradisi karnaval nadran ini tetap berlangsung hingga selesai dimana para peserta semuanya berkumpul di kompleks makam Sunan Gunungjati. BNP/Teguh Prabowo

Editor: Administrator

Terkini

Puncak Imlek di Klenteng An Tjeng Bio Indramayu

Sabtu, 22 Februari 2014 | 06:58 WIB

Masres, Kesenian Pelosok yang Berusaha Tak Terperosok

Sabtu, 7 Desember 2013 | 16:10 WIB

Citomo "Menolak" Perkembangan

Kamis, 5 Desember 2013 | 10:37 WIB

Hidup di Atas Roda Gila

Sabtu, 23 November 2013 | 11:58 WIB

Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok dan Tanggulan

Sabtu, 26 Oktober 2013 | 20:43 WIB

Kuda Perang dari Lembah Ciremai

Senin, 30 September 2013 | 22:58 WIB

Grebeg Syawal di Astana Gunung Jati Cirebon

Minggu, 25 Agustus 2013 | 17:04 WIB

Pesona Pulau Biawak di Indramayu

Senin, 8 Juli 2013 | 06:57 WIB

Banjir Tahunan Rendam Bandung Selatan

Minggu, 21 April 2013 | 06:20 WIB

Sepatu Motorcross Kelas Dunia Kreasi Anak Negeri

Jumat, 29 Maret 2013 | 19:28 WIB

Kreasi Unik Topeng Bambu

Jumat, 29 Maret 2013 | 06:21 WIB
X