• Senin, 29 November 2021

Hidup di Atas Roda Gila

- Sabtu, 23 November 2013 | 11:58 WIB
Suasana pasar malam. BNP/Gilang Pratama
Suasana pasar malam. BNP/Gilang Pratama

Deru mesin motor berpacu dengan dentuman musik dari luar bersahutan saat kemeriahan pasar malam yang merupakan salah satu hiburan alternatif.

Tong Stand atau yang sering disebut Tong setan merupakan pertunjukan yang sangat menguji nyali bagi para pemainnya adegan berbahaya pun mereka lalukan demi mengkibur pengunjung. Biasanya mereka selalu berpindah-pindah bersama grup yang mereka ikuti, bersama grup komidi putar, Bianglala dan lainya, mereka menyambangi kota ke kota, desa ke desa.

Tak aneh jika mereka lekat dengan kehidupan yang berpindah-pindah, tidur seadanya di dalam tong besar yang terbuat dari susunan papan vertical beratapkan tenda kerucut yang berdiri kokoh, bahkan tak jarang pula beberapa anggota membawa serta keluarganya.

Tinggi tong itu sekitar sepuluh meter dengan diameter bagian dasarnya sekitar enam meter dan diameter bagian atas (bibir tong) sekitar sebelas meter. Di sinilah pengendara motor mengandalkan kecepatan dan keseimbangan agar tidak terjatuh ke dasar tong.

Hari menjelang sore, tiga pemuda didalam tong menyiapkan berbagai keperluan pertunjukan, serta memeriksa kondisi motor supaya tidak mengakibatkan kecelakaan saat pertunjukan berlangsung. Ketika pasar malam mulai dipadati pengunjung, Salah seorang diantara mereka melambaikan tangan di depan tong setan untuk menarik pengunjung yang ingin menyaksikan pertunjukan mereka, pengunjung pun mulai memadati loket tiket yang berukuran 2 x 2 meter itu.

Dari bibir tong, pengunjung melihat ke bawah. Semuanya menutupi telinga untuk mengantisipasi raungan suara motor yang melaju dalam tong.Dua pengendara berputar di bagian bawah tong sampai mendapatkan cukup kecepatan untuk membawa motor dalam posisi horizontal pada bagian atas tong. Mereka memutar berlawanan arah jarum jam.

Sekitar sepuluh menit mereka beratraksi, berdiri di atas motor dalam kecepatan tinggi untuk melawan gravitasi, sampai atraksi menyambar uang yang diberikan para penonton. Ketika menyambar saweran, posisi roda motor tipis sekali di bibir tong seakan-akan motor hendak menyerempet para penonton.

Atraksi mencapai klimaks ketika seorang pengendara sepeda onthel bergabung dalam lintasan. Hanya dengan tenaga kayuhan kakinya, ia berhasil sampai di bibir tong dengan posisi yang nyaris horizontal dengan lantai.

Tong Stand bagaikan sebuah rumah perantauan bagi para mereka. Padanya mereka menggantungkan harapan untuk bertahan hidup diatas roda-roda gila. BNP/Gilang Pratama

Editor: Administrator

Terkini

Puncak Imlek di Klenteng An Tjeng Bio Indramayu

Sabtu, 22 Februari 2014 | 06:58 WIB

Masres, Kesenian Pelosok yang Berusaha Tak Terperosok

Sabtu, 7 Desember 2013 | 16:10 WIB

Citomo "Menolak" Perkembangan

Kamis, 5 Desember 2013 | 10:37 WIB

Hidup di Atas Roda Gila

Sabtu, 23 November 2013 | 11:58 WIB

Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok dan Tanggulan

Sabtu, 26 Oktober 2013 | 20:43 WIB

Kuda Perang dari Lembah Ciremai

Senin, 30 September 2013 | 22:58 WIB

Grebeg Syawal di Astana Gunung Jati Cirebon

Minggu, 25 Agustus 2013 | 17:04 WIB

Pesona Pulau Biawak di Indramayu

Senin, 8 Juli 2013 | 06:57 WIB

Banjir Tahunan Rendam Bandung Selatan

Minggu, 21 April 2013 | 06:20 WIB

Sepatu Motorcross Kelas Dunia Kreasi Anak Negeri

Jumat, 29 Maret 2013 | 19:28 WIB

Kreasi Unik Topeng Bambu

Jumat, 29 Maret 2013 | 06:21 WIB
X