• Senin, 29 November 2021

Citomo "Menolak" Perkembangan

- Kamis, 5 Desember 2013 | 10:37 WIB
Perkampungan Citomo, Desa Sekarwangi, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. BNP/Farhan Sobarna
Perkampungan Citomo, Desa Sekarwangi, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. BNP/Farhan Sobarna

Terletak di wilayah Garut bagian utara, Kampung Citomo, berbatasan langsung dengan Kabupaten Sumedang. Kampung Citomo, Desa Sekarwangi, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, bisa dikatakan sebagai daerah terbelakang di Kabupaten Garut. Kampung ini masih sangat jauh dari modernisasi dan perkembangan di berbagai sektor.

Bagaimana tidak, kampung yang dihuni oleh 12 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sebanyak 60 orang jiwa ini, tak memiliki akses jalan yang memadai baik untuk kendaraan roda dua dan roda empat bahkan jika malam hari mereka harus rela gelap kerena belum ada aliran listrik ke daerahnya.

Saat musim hujan, warga Kampung Citomo kian kesulitan. Pasalnya, akses jalan yang hanya tanah merah dan batu-batu kecil itu menjadi jauh lebih sulit dilewati. Sementara anaka-anak terpaksa harus berjalan kaki sejauh 2 Kilometer untuk sampai ke sekolah.

Karena sulitnya medan dan minimnya kesejahteraan mereka, tingkat pendidikan semua penduduk di Kampung Tomo tak lebih dari sekolah dasar. Sementara bercocok tanam dengan memanfaatkan kondisi alam jadi mata pencaharian utama warga kampung. Namun hasil yang diperoleh hanya cukup untuk makan sehari-hari. Mereka sulit menjual hasil bumi ke pasar ataupun ke kota karena sulitnya medan yang harus ditempuh.

Penduduk Kampung Citomo mengaku sampai saat ini belum pernah mendapatkan program bantuan apa pun dari pemerintah. Program pembagian Raskin, gas 3 kg, BLSM dan program lainnya pun tak pernah sampai ke Kampung Tomo. Pemerintah Desa Sekarwangi, berkilah jika Kampung Citomo tak tersentuh kesejahteraan karena lokasinya yang sulit di jangkau.

Jika malam tiba, anak-anak di Kampung Citomo yang ingin belajar harus rela gelap-gelapan karena tak ada listrik. Mereka belajar hanya menggunakan lampu cempor. Tentu saja kondisi ini sangat kontras dengan suasana perkotaan yang gemerlap dengan penerangan.

Sementara itu, untuk mengolah padi yang mereka dapatkan dari hasil bertani, mereka harus bekerja lagi dengan cara menumbuknya. Mereka pun harus pandai mengatur ketersediaan padinya karena tak memiliki bantuan dari Raskin. Untuk pemenuhan kebutuhan lainnya, mereka secara bergiliran keluar dari Kampung Citomo selama satu Bulan sekali. Warga yang lainnya bisa menitipkan belajaan untuk kebutuhan satu bulan di Kampung Citomo. BNP/Farhan Sobarna

Editor: Administrator

Terkini

Puncak Imlek di Klenteng An Tjeng Bio Indramayu

Sabtu, 22 Februari 2014 | 06:58 WIB

Masres, Kesenian Pelosok yang Berusaha Tak Terperosok

Sabtu, 7 Desember 2013 | 16:10 WIB

Citomo "Menolak" Perkembangan

Kamis, 5 Desember 2013 | 10:37 WIB

Hidup di Atas Roda Gila

Sabtu, 23 November 2013 | 11:58 WIB

Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok dan Tanggulan

Sabtu, 26 Oktober 2013 | 20:43 WIB

Kuda Perang dari Lembah Ciremai

Senin, 30 September 2013 | 22:58 WIB

Grebeg Syawal di Astana Gunung Jati Cirebon

Minggu, 25 Agustus 2013 | 17:04 WIB

Pesona Pulau Biawak di Indramayu

Senin, 8 Juli 2013 | 06:57 WIB

Banjir Tahunan Rendam Bandung Selatan

Minggu, 21 April 2013 | 06:20 WIB

Sepatu Motorcross Kelas Dunia Kreasi Anak Negeri

Jumat, 29 Maret 2013 | 19:28 WIB

Kreasi Unik Topeng Bambu

Jumat, 29 Maret 2013 | 06:21 WIB
X