• Senin, 29 November 2021

Masres, Kesenian Pelosok yang Berusaha Tak Terperosok

- Sabtu, 7 Desember 2013 | 16:10 WIB
Panggung sandiwara masres. BNP/Teguh Prabowo
Panggung sandiwara masres. BNP/Teguh Prabowo

Langit di malam itu tampak lebih gelap. Cuaca mendung agak mengkhawatirkan bagi para kru pemain kesenian ketoprak sandiwara masres yang tengah bersiap pentas dan memainkan perannya masing-masing di blok Karang Tengah, Desa Leuwigede, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu.

Mendung tak mengikis semangat para artis panggung kesenian tradisional masyarakat pelosok ini. Mereka tetap semangat untuk mementaskan drama panggung demi menghibur masyarakat pedesaan. Keseniaan sandiwara masres, diperankan sedikitnya oleh 50 orang pemain dengan berbagai peran. Umumnya pentas kesenian rakyat ini bercerita tentang sejarah pada jaman kerajaan di tatar Pasundan.

Pagelaran kesenian sandiwara masres dilakukan diatas panggung yang cukup sederhana dengan luas sekitar 8 x 8 meter, dengan tata panggung yang juga sederhana. Sementara untuk menggambarkan lokasi suasana drama, cukup dengan menggunakan layar yang dilukis menyerupai suatu tempat dimana tempat itu diceritakan. Ada beberapa lukisan dalam satu panggung, lukisan yang menggambarkan tempat ini bisa diganti dengan cara digulung ke atas dengan menggunakan tambang.

Sementara tata lampu juga umumnya hanya menggunakan lampu berupa neon biasa. Namun ada pula yang menggunakan sebuah lampu tertentu untuk memberikan efek seperti pada saat penampilan mahluk jahat atau hantu. Akting mereka dalam sebuah cerita tak kalah dengan para artis dalam seni peran profesional. Sesekali cerita humor pun diperankan untuk memberikan sedikit penyegaran para penonton.

Tidak seperti pementasan kesenian lainya yang disediakan tempat khusus untuk istirahat atau berias bagi para pemeran. Para artis kesenian rakyat sandiwara masres ini hanya memanfaatkan kolong panggung sebagai tempat segalanya. Dibawah kolong panggung ini dijadikan untuk tempat istirahat, ber-make up sebelum pentas, briefing, dan bahkan digunakan untuk tidur dengan menggunakan alas tikar.

Selain pandai memerankan tokoh, setiap seniman masres ini juga harus pandai merias diri, artinya ia harus melakukan make up sendiri menyesuaikan tokoh yang akan ia perankan. Tidak ada penata rias khusus, tidak ada cermin khusus untuk make up. Cukup dengan menggunakan cermin kecil, dengan peralatan dan bahan make up secukupnya yang murah meriah, dan hanya di terangi oleh lampu yang secukupnya meski dengan kondisi cahaya yang temaram.

Sementara itu dalam kesenian sandiwara masres ini juga diisi dengan irama musik tradisional. Para pemain musik sendiri berjumlah sedikitnya 15 orang, dan biasanya ditempatkan tepat di depan bagian bawah panggung dengan alat alat musik seperti gamelan, gong, kenong dan lainya. Para pemain musik ini juga memainkan musiknya menyesuaikan cerita yang saat itu di perankan oleh para pemain di atas panggung.

Namun sayangnya, pementasan kesenian sandiwara masres ini kian tergeser oleh banyaknya hiburan lain yang lebih modern seperti organ tunggal dan lainya. Total nilai biaya pementasan sandiwara masres biasanya berkisar antara Rp 11 juta hingga Rp 13 juta, bahkan jika keluar daerah bisa mencapai 15 hingga 17 juta rupiah. Nilai itu sangat wajar karena pada kesenian sandiwara masres ini banyak melibatkan orang hingga bisa mencapai 70 orang dari mulai pemain drama, pemain musik, penata lampu, dekorasi panggung, hingga sopir.

Biasanya kesenian sandiwara masres ini biasa pentas pada acara hajatan ataupun syukuran di beberapa pelosok yang masih menyukai kesenian tersebut. Sayangnya pihak pemerintah daerah seakan tak mempedulikan keberadaan kesenian sandiwara masres.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang pemeran masres ia mengaku belum pernah di panggil untuk pentas mengisi acara seremonial atau hajatan yang digelar pemerintah. Hal inilah yang membuat kesenian sandiwara masres harus bergerak sendiri untuk melestarikan kesenian tradisional ditengah gempuran hiburan lainya yang lebih modern. BNP/Teguh Prabowo

Editor: Administrator

Terkini

Puncak Imlek di Klenteng An Tjeng Bio Indramayu

Sabtu, 22 Februari 2014 | 06:58 WIB

Masres, Kesenian Pelosok yang Berusaha Tak Terperosok

Sabtu, 7 Desember 2013 | 16:10 WIB

Citomo "Menolak" Perkembangan

Kamis, 5 Desember 2013 | 10:37 WIB

Hidup di Atas Roda Gila

Sabtu, 23 November 2013 | 11:58 WIB

Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok dan Tanggulan

Sabtu, 26 Oktober 2013 | 20:43 WIB

Kuda Perang dari Lembah Ciremai

Senin, 30 September 2013 | 22:58 WIB

Grebeg Syawal di Astana Gunung Jati Cirebon

Minggu, 25 Agustus 2013 | 17:04 WIB

Pesona Pulau Biawak di Indramayu

Senin, 8 Juli 2013 | 06:57 WIB

Banjir Tahunan Rendam Bandung Selatan

Minggu, 21 April 2013 | 06:20 WIB

Sepatu Motorcross Kelas Dunia Kreasi Anak Negeri

Jumat, 29 Maret 2013 | 19:28 WIB

Kreasi Unik Topeng Bambu

Jumat, 29 Maret 2013 | 06:21 WIB
X